Mampukah Jeruk Keprok Nasional Kita Menggeser Jeruk Impor?

Oleh: Dr, Ir. Hardiyanto, Msc

Kepala Balitjestro Dr. Ir. Hardiyanto, MSc sedang memanen jeruk keprok Batu 55 di Visitor Plot Jeruk milik Balitjestro, Batu, Jawa Timur

 

Sampai saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah Malaysia, dengan volume impor khususnya jeruk manis sebesar 127.041 ton selama kurun waktu 2005 – 2009 dengan rata – rata per tahun mencapai 25.408 ton atau setara dengan US $ 17.464.186/th Sedangkan untuk jenis keprok atau mandarin, selama kurun waktu 2005 – 2009 mencapai 504.063 ton atau sekitar 100.813 ton per tahun dengan nilai mencapai US $ 80.569.300 (Sumber BPS, 2010 diolah).  Tidak heran kalau banyak dijumpai jeruk impor hampir di semua swalayan termasuk pedagang buah di kaki lima. Yang sangat menyedihkan lagi jeruk impor ditata dan diletakkan lebih bagus dibandingkan dengan jeruk produk nasional, dan tampaknya konsumen juga kurang menyukai jeruk produk sendiri dengan alasan kualitasnya masih kalah dengan jeruk impor. Kecenderungan meningkatnya impor jeruk berbagai varietas mengindikasikan adanya segmen pasar (konsumen) tertentu yang menghendaki jenis dan mutu buah jeruk prima yang belum bisa dipenuhi produsen dalam negeri. Konsekuensinya untuk memenuhi kebutuhan konsumen harus dipenuhi dari impor yang sebagian besar berasal dari Australia, China dan Pakistan yang sebenarnya kondisi buah jeruk tidak lebih segar dari buah jeruk kita karena telah disimpan lama di dalam cool storage selama 6 bulan – 1 tahun.

Peningkatan impor buah jeruk sebenarnya dapat dijadikan peluang pasar sekaligus peluang pengembangan jeruk keprok nasional kita seiring dengan peningkatan preferensi konsumen akan buah jeruk bermutu, Besarnya peluang pengembangan jeruk keprok ini tidak lepas dari potensi yang kita miliki antara lain banyaknya sentra produksi jeruk, tingginya keragaman sumber daya genetic jeruk, , ketersediaan varietas jeruk keprok nasional berkualitas tinggi termasuk ketersedian benihnya,  teknologi yang telah dihasilkan, ketersediaan pasar serta kemauan pelaku agribisnis jeruk itu sendiri. Artinya kita bisa menjawab bahwa jeruk keprok nasional mampu menggeser keberadaan jeruk impor yang beredar di Indonesia asalkan kita semua khususnya pemerintah Pusat dan Daerah, pelaku agribisnis jeruk dan pihak pengusaha /swasta  termasuk BUMN mempunyai komitmen tinggi untuk mendukung pengembangan jeruk keprok nasional. Untuk itu perlu gerakan nasional tentang pencanangan                “ Program Keproknisasi Nasional Yang Berkelanjutan” yang tentunya perlu disusun secara sistematis, komprehensif dan melibatkan beberapa institusi termasuk pengambil kebijakan.

Potensi Yang Dimiliki

1.    Sentra Produksi Jeruk Keprok

Luas panen jeruk saat ini mencapai 72.306.000 Ha, dengan total produksi sekitar 2.071.084 ton dan produktivitasnya mencapai 38,85 ton/Ha (Sumber Kementrian Pertanian, 2009). Agribisnis jeruk di Indonesia masih didominasi oleh jeruk Siam yang mencapai hampir 80 %. Ke depan pengembangan jeruk keprok perlu diutamakan dengan cara pengurangan dominasi jeruk Siam sampai 50 – 60 %. Sentra produksi jeruk keprok saat ini banyak dijumpai di Jawa Timur khususnya di daerah Batu, Jember dan Banyuwangi, Jawa Barat di daerah Garut, NTT di daerah Timor Timur Selatan, dan Bali. Di samping daerah tersebut, ada beberapa sentra areal   jeruk yang berpotensi dikembangkan seperti Berastagi (Sumatera Utara), Kerinci (Jambi), dan Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan) serta Kalimantan Timur mengingat sumber daya alamnya mempunyai keunggulan untuk meghasilkan jeruk keprok berkualitas ekspor Apabila zone-zone ini dikembangkan secara terprogram dan berkelanjutan dipastikan jeruk keprok nasional akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

2.    Tingginya Keragaman Plasma Nutfah Jeruk dan Ketersediaan Varietas Unggul Jeruk Keprok

Keragaman sumber daya genetic jeruk sangat tinggi, hal ini terbukti dengan banyaknya asesi atau varietas yang telah dikoleksi di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Batu, Jawa Timur yang berasal dari hasil eksplorasi maupun hasil introduksi. Koleksi plasmanutfah jeruk di Balitjestro sampai saat ini berjumlah 211 asesi dan merupakan koleksi terlengkap di Indonesia. Diantara koleksi yang ada, terdapat 85 asesi atau varietas jeruk keprok yang dapat digunakan sebagai materi seleksi dan atau perakitan varietas yang nantinya dapat dikembangkan menjadi jeruk keprok unggulan nasional. Saat ini, Indonesia memiliki beberapa varietas unggul jeruk keprok yang kualitasnya dapat menandingi jeruk impor. Beberapa varietas jeruk keprok komersial hasil seleksi Balitjestro maupun dari Pemerintah Daerah yang sudah dilepas oleh Kementrian Pertanian dengan kualitas buah yang tidak kalah dengan jeruk impor antara lain Keprok Batu 55 berasal; dari Batu, Jawa Timur, keprok Garut dari Jawa Barat, keprok Pulung dari Jawa Timur, keprok Tawangmangu dari Jawa Tengah, dan keprok SOE dari NTT. Jenis keprok lainnya seperti keprok Tejakula (Bali), keprok Madura, keprok Borneo Prima (Kaltim) dan keprok Trigas (Kalbar) tampaknya juga dapat berpotensi untuk dikembangkan di masa mendatang khususnya untuk dataran rendah.

Keberadaan buah jeruk keprok nasional masih terbatas sehingga masih sulit dijumpai di pasar tradisional maupun di pasar modern (Super market). Hal ini dapat terjadi karena skala usaha tani jeruk termasuk jenis keprok di Indonesia masih sangat kecil, lokasinya terpencar dan bukan merupakan hamparan luas. Pengembangan agribisnis jeruk khususnya jeruk keprok ke depan harus berupa estate atau skala perkebunan berupa hamparan luas apabila buah jeruk keprok kita ingin menjadi tuan rumah dinegeri sendiri.

3.    Ketersediaan Benih Jeruk Bebas Penyakit

Hal terpenting dalam pengembangan agribisnis jeruk di Indonesia adalah ketersediaan benih jeruk bebas penyakit. Sistem  produksi dan alur benih jeruk sudah berjalan dengan baik dan telah diterapkan di Indonesia. Salah satu mandate Balitjestro adalah memproduksi dan mendistribusikan benih sumber jeruk bebas penyakit. Balitjestro memiliki hampir semua pohon induk bebas penyakit dari varietas jeruk yang telah dilepas maupun yang belum dilepas yang ditanam di dalam screen house. Dalam kurun waktu 2005 – 2009 Balitjestro telah memproduksi 1072 tanaman jeruk dalam bentuk Blok Fondasi (BF) setara Benih Dasar dan 6706 tanaman jeruk sebagai Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) setara Benih Pokok yang sebagai besar adalah pesanan dari beberapa Provinsi.  Hingga saat ini, telah dibangun BF maupun BPMT jeruk masing-masing di 16 dan 18 Provinsi melalui pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang sumber benihnya berasal dari Balitjestro. Keberadaan BF maupun BPMT jeruk merupakan kekuatan dalam memenuhi kebutuhan benih jeruk keprok di Indonesia. Oleh karena itu,  reevaluasi keberadaan dan fungsi BF dan BPMT jeruk di masing-masing Provinsi perlu dilakukan. Berdasarkan revealuasi tersebut, kita baru dapat menentukan provinsi atau wilayah mana yang akan dijadikan pusat pengembangan jeruk keprok nasional. Selanjutnya baru disusun program penguatan BF dan BPMT jeruk di wilayah target untuk pengembangan jeruk keprok ke depan. Rasionalisasi BF maupun BPMT jeruk perlu dipertimbangkan juga agar lebih focus dalam pengelolaannya.

Program Keproknisasi Nasional

Melihat potensi yang kita miliki, semestinya kita berani untuk mulai mencanangkan dan menyusun “Program Keproknisasi Nasional”  Direktorat Jendral Hortikultura, (Dirjen Hortikultura) Kementrian Pertanian melalui Direktorat Budidaya Tanaman Buah sebenarnya telah merencanakan program tersebut tinggal bagaimana mewujudkannya. Minimal ada 12 komponen yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dan pelaksanaan program ini antara lain: 1) Adanya kebijakan nasional mengenai program keproknisasi nasional; 2) Penentuan target terpenuhinya substitusi jeruk impor; 3) Peran dan tanggung jawab institusi terkait baik di dalam Kementrian Pertanian maupun lintas Kementrian, di tingkat pusat mapun di daerah; 4) Arah pengembangan jeruk keprok (melalui pemantapan areal yang sudah ada maupun pengembangan areal baru); 5) Penentuan wilayah pengembangan jeruk keprok beserta luas areal yang dibutuhkan; 6) Jenis atau varietas jeruk keprok yang akan dijadikan unggulan nasional (Bisa lebih dari 2 – 3 varietas); 7) Produksi dan kesiapan penyediaan benih jeruk keprok khususnya untuk pengembangan areal baru; 8) Kontinyuitas pasokan buah jeruk dengan kualitas buah prima; 9) Kesiapan pengelolaan pasca panen (Sortasi, grading, pengepakan dan pengiriman); 10) Kesiapan Gapoktan dan Penyuluh dalam merealisasi program keproknisasi, 11) Kepedulian dalam perbaikan infra struktur di wilayah target program keproknisasi, dan 12) Adanya promosi dan gerakan mencintai produk jeruk keprok nasional yang melibatkan pengelola pasar modern.

12 komponen ini tentunya perlu dijabarkan lebih rinci dan lebih konkrit sehingga mudah untuk segera ditindaklanjuti. Untuk itu perlu kiranya Direktorat Budidaya Tanaman Buah mempelopori perencanaan program ini secara konkrit dengan melibatkan  berbagai kalangan baik dari akadimisi, pemerintah, stakeholder, dan pengusaha swasta, serta BUMN.

Mudah-mudah tulisan ini bukan sebagai wacana saja akan tetapi ada tindaklanjutnya dan semoga program keproknisasi nasional  ini dapat terwujud dalam kurun waktu yang tidak lama, sehingga jeruk keprok nasional kita bisa merajai pasar di Indonesia bahkan nantinya bisa bersaing di pasar global. Balitjestro siap mendukung sepenuhnya agar program ini dapat terealisasi. Pengembangan agribisnis jeruk keprok nasional ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani jeruk secara signifikan dan mempunyai andil besar dalam menguatkan pembangunan ekonomi Indonesia.

 


Dr. Ir. Hardiyanto, MSc
Kepala balai Penelitian tanaman Jeruk Dan Buah Subtropika, Batu Jawa Timur
Jalan Raya Tlekung No. 1, Junrejo, Batu PO BOX. 22 Batu, Telp. 0341 592683.