Kembalikan Jeruk Keprok SoE ku

Workshop “ RENCANA AKSI REHABILITASI AGRIBISNIS JERUK KEPROK SoE YANG BERKELANJUTAN UNTUK SUBSTITUSI IMPOR DI NUSA TENGGARA TIMUR ” bertema “Kembalikan Jeruk Keprok SoE ku” telah dilaksanakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 21 Juli 2011. Adapun tujuan diselenggarakannya workshop ini adalah untuk menyampaikan hasil kegiatan kerjasama pemerintah Indonesia (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) dan Australia (Australian Centre for International Agricultural Research, ACIAR) dalam proyek “Market Development for Citrus Eastern Indonesia”; dan menyusun rencana aksi rehabilitasi agribisnis jeruk keprok SoE yang berkelanjutan untuk substitusi impor.

Workshop ini diselenggarakan atas kerjasama antara Badan Litbang Pertanian melalui Puslitbang Hortikultura dan Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, ACIAR, Direktorat Jenderal Hortikultura dan Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Adapun tujuan Workshop adalah menyampaikan hasil kegiatan kerjasama pemerintah Indonesia (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) dan Australia (Australian Centre for International Agricultural Research, ACIAR) dalam proyek “Market Development for Citrus Eastern Indonesia”, dan menyusun rencana aksi rehabilitasi agribisnis jeruk keprok SoE yang berkelanjutan untuk substitusi impor.

Tamu undangan yang hadir antara lain Bapak Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Direktur Budidaya dan Pasca Panen Buah, Direktur Perluasan dan Pengelolaan Lahan, Kepala BB Veteriner, Kepala Puslitbang Hortikultura, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten, kepala BPTP NTT, kepala Balitjestro, nara sumber dari Direktur Pemasaran Bank NTT dan Universitas Nusa Cendana, kepala BPTP Sulstra, penangkar, para peneliti dari BPTP NTT, Balitjestro serta undangan lainnya yang berjumlah 65 peserta

Dalam pembukaan Kepala Puslitbang Hortikultura yang mewakili Bapak Kepala Badan Litbang Pertanian menekankan pada 2 hal yang perlu diperhatikan antara lain: a) Dalam pengembangan kawasan agribisnis keprok SoE mendatang ada 4 faktor penting yang harus ditindaklanjuti yaitu: menggunakan inovasi teknologi inovatif yang telah dihasilkan Badan Litbangtan, pengembangan sesuai dengan agroklimatnya, penguatan kelembagaan petani, dan pendampingan penerapan teknologi anjuran; dan b) “Pendampingan Kawasan Agribisnis Jeruk Keprok SoE” perlu ada:

  1. Komitmen Pemerintah Daerah: dana, kemudahan akses, kepastian status lahan pengembangan, penetrasi pasar, promosi
  2. Kesatuan tindakan: Ditjen Hortikutura, Ditjen PSP, Dinas Teknis Pemerinrah Provinsi dan Kabupaten (sering tidak sinkron), Pemda dan instansi pendukung lainnya dan pihak swasta
  3. Dukungan Badan Litbang Pertanian:  BBP2TP melalui BPTP NTT, Puslitbang Hortikultura melalui Balitjestro, BPSDL, BB Pasca Panen, BB Mektan

Selanjutnya Beliau menginginkan agar acara workshop ini dapat menghasilkan rencana aksi yang kongkrit dan dapat mewujudkan agribisnis jeruk keprok SoE di NTT sekaligus dapat menjawab target 4 sukses Menteri Pertanian terutama dalam hal meningkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspor; serta meningkatkan kesejahteraan petani jeruk
Bupati Timor Tengah Selatan (TTS) dalam paparannya sangat menghargai dan mengucapkan terima kasih kepada Badan Litbang Pertanian yang telah menyelenggarakan acara workshop ini khususnya untuk mengembalikan jeruk keprok SoE di NTT. Selanjutnya dalam sambutannya, beliau menyadari bahwa populasi jeruk keprok SoE menurun tajam karena kemampuan SDM dalam mengelola jeruknya dan belum terbangunnya kelembagaan petani yang kuat, terbatasnya sistem pengairan terutama untuk pengelolaan jeruk keprok SoE disamping ada serangan penyakit dan terbatasnya ketersediaan benih jeruk bermutu. Oleh karena itu, beliau menyarankan agar dalam penyusunan rencana aksi perlu diperhatikan hal – hal tersebut di atas. Bupati sangat optimis jeruk keprok SoE yang mempunyai daya saing dan nilai jual yang tinggi dapat dikembangkan kembali di NTT.
Untuk menghindari tumpang tindih dalam pengembangan lahan agribisnis jeruk antara Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah dan Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan, dan Pemda maka perlu dibuat grand design “Orange Belt Estate” berupa rencana aksi rehabilitasi agribisnis jeruk keprok SoE yang berkelanjutan untuk substitusi impor yang melibatkan semua institusi terkait baik di pusat dan daerah sesuai dengan tupoksi dan tanggung jawab di masing-masing kegiatan. Tata ruang berbasis AEZ yang telah dibuat BPTP NTT bisa dimanfaatkan dengan melakukan updating terlebih dahulu dalam upaya menentukan lokus pengembangan kawasan agribisnis jeruk keprok. Untuk itu perlu pertemuan lanjutan untuk menyusun grand design tersebut. Pemerintah Daerah diminta untuk proaktif dalam melakukan pertemuan lanjutan untuk mendiskusikan grand design mengingat grand design ini untuk kepentingan mereka sendiri. Direktur PPL merencanakan akan mengundang Puslitbang Hortikultura, Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah, BBP2TP dan Pemda untuk mendiskusikan hal tersebut di NTT dalam waktu yang tidak terlalu lama pada tahun ini. Diharapkan grand design bisa selesai sebelum akhir tahun 2011.
Koordinasi, sinkronisasi program dan komitmen bersama diantara institusi terkait perlu diwujudkan agar grand design “Orange Belt Estate” berupa rencana aksi rehabilitasi agribisnis jeruk keprok SoE yang berkelanjutan untuk substitusi impor dapat tersesun secara kongkrit dan implementatif yang diharapkan dapat berdampak positif bagi masyarakat NTT khususnya para pelaku agribisnis jeruk keprok.

Nara sumber terdiri dari Dirrektur Budidaya dan Pasca Panen Buah, Direktur Perluasan dan Pengelolaan lahan, Kepala Seksi Hortikultura, Kepala BPTP NTT Dipandu oleh Kepala Balitjestro